Karena
Ikatan Kita… Istimewa
28/9/2011 | 29 Syawal 1432 H | Hits:
2.253
Oleh: Jupri Supriadi
Ilustrasi (w4hyud1.wordpress.com)
dakwatuna.com - Sebut saja A dan B. Dua orang sahabat yang sejak kecil
sering bercanda bersama, menangis bersama, bahkan melanjutkan sekolah hingga
perguruan tinggi pun selalu bersama. Kecocokan antara keduanya telah terbingkai
dalam sebuah jalinan persaudaraan yang unik, yang tak mudah kita temui di
kebanyakan episode persaudaraan yang lain.
Suatu ketika, di sebuah serambi
masjid kampus, mereka sepakat untuk saling mengoreksi dan mengevaluasi dir
mereka masing-masing. Si A harus mengevaluasi kekurangan dan kelebihan si B.
Begitu pun sebaliknya, si B juga harus bisa menyebutkan kekurangan dan
kelebihan yang ada pada diri si A. Mereka bersepakat bahwa beberapa hari lagi
akan bertemu di tempat yang sama untuk menyampaikan hasil evaluasi yang mereka
siapkan mulai dari pertemuan itu. Hingga tibalah hari dimana mereka
menyampaikan boring evaluasinya.
“A, silakan kamu mulai bacakan
evaluasimu terhadap tingkahku selama ini.” Ucap
si B mengawali pembicaraan.
“Tidak B, kamu saja yang memulainya.
Sepertinya tulisanmu lebih banyak. Dan sepertinya kamu lebih siap untuk
menyampaikannya lebih dahulu.”
“Hmm, baiklah. Aku yang akan
memulainya.”
“Silakan B, aku akan mendengarkan.”
“Tapi,,, kamu janji ya tidak akan
marah padaku setelah kubacakan penilaianku padamu?”
“Baiklah, aku tidak akan marah.
Sampaikan saja sejujurnya padaku.”
“Err, kamu mau mendengar yang mana
dulu? Tentang kelebihanmu atau kekuranganmu?”
“Kekuranganku saja dulu.”
“A, kamu itu orangnya egois, maunya
selalu diperhatikan, tidak peka sama lingkungan, tak pernah mau terus terang
tentang masalah yang menimpamu. Kamu itu selalu menyalahkan orang lain ketika
ada masalah yang menimpamu, kamu itu……”
“maaf B, maafkan aku bila selama ini
telah sering menyakitimu.” Ujar
si A memotong perkataan si B yang sedang membacakan evaluasinya.
“Tak apa A, maaf juga bila kamu
telah tersinggung mendengarkan evaluasiku ini. Tapi, aku masih belum selesai
membacakannya. Apakah harus ku hentikan?”
“Tidak B, lanjutkan saja. Aku akan
terus mendengarkannya.” Kata
si A sambil menyeka pipinya yang mulai meneteskan air mata.
“Kamu itu, maaf…. Pemalas,
tergantung pada orang tua, selalu bilang aku seperti anak-anak. Dan kamu itu
plin-plan….” Sejenak B menatap wajah
saudaranya. Binar matanya mulai terbasahi air mata yang mulai menetes melintasi
pipinya.
“A, ada apa? Apa ku menyakitimu?
Kalau begitu aku hentikan saja evaluasiku. Aku tak ingin sahabatku bersedih
seperti ini.”
“Tidak apa B, terus lanjutkan saja.
Aku akan terus mendengarkan nasihat dari sahabat terbaik ku.”
“Aku tak sanggup melihatmu bersedih
seperti ini. Biar ku hentikan saja ya.”
“Tolong B, lanjutkan saja. Aku tidak
apa-apa sahabatku. Aku hanya ingin mengetahui dari lisanmu mengenai
kesalahan-kesalahanku padamu. Apakah kekuranganku masih banyak?” ujar A sambil menahan tangis yang hampir meledak “Maaf
A, masih ada tiga halaman lagi. Baiklah, aku lanjutkan.” Si B pun
melanjutkan membaca daftar kekurangan si a yang telah ia tuliskan.
Selanjutnya, si B membacakan daftar
kelebihan yang dimiliki si A.
“A, bagiku kamu tetap istimewa, kamu
adalah temanku yang paling cerdas dan kamu sering mengingatkanku bila ku
tersalah.” Si B membacakan daftar
kelebihan si A yang hanya tiga paragraph tersebut.
“Sudah A, aku sudah membacakan
semuanya. Selanjutnya giliranmu.”
Sambil berusaha senyum, si A
membacakan daftar kelebihan dan kekurangan si B.
“Sekarang aku akan membacakan
kelebihanmu dulu saja ya B.”
“Baik A, kalau kamu berkenan,
silakan.”
“Kamu itu kreatif, cekatan, suka
menolong, penuh ide brilian, konsisten, tak mengharap imbalan duniawi,
kata-katamu selalu terjaga, dan selalu senyum tatkala menyapa orang-orang di
sekitarmu….” Ucap si A panjang lebar hingga
tiga halaman A4 ia selesai bacakan.
“sudah B, aku sudah selesai
membacakan semua yang kutulis.”
“kekuranganku?”
“Tidak, tidak ada…. Aku sudah
rampung membaca semua evaluasiku padamu saudaraku.”
“Apa maksudmu? Apa saja kekuranganku
dan tingkah burukku yang telah menyakitimu selama aku menjadi sahabatmu A? coba
sebutkan saja, aku tidak akan marah.”
“Aku tak bisa menuliskan apapun pada
lembar kekuranganmu A. bagiku, kekuranganmu telah mengajarkanmu untuk lebih
dewasa dan bijak dalam mengambil setiap keputusan. Dan semua itu telah
terbingkai indah dalam memori hidupku sahabatku. Oleh karena itu tak ada yang
bisa kubacakan mengenai kekuranganmu.”
“Duhai sahabatku, maafkan aku.
Sungguh engkau adalah sahabat terbaik yang pernah kutemui. Engkau adalah mutiara
yang selalu menjadi perhiasan dalam hidupku, menghiasi setiap lembaran
perjalanan kehidupan yang penuh kejadian mengharu biru ini.”
Dan kini, serambi masjid kampus itu
pun menjadi saksi, tetesan air mata yang mengalir karena sebuah ikatan yang
begitu berharga. Ikatan ukhuwah.
*****
Ah, rasanya aku belum bisa menjadi
seperti A yang mampu menangkap setiap aura kebaikan dari sahabatnya. Menjadikan
segala kekurangan sahabatnya sebagai pelecut semangat untuk mendewasakan diri
tanpa mengungkit-ngungkit apalagi membicarakan kekurangan sahabatnya pada orang
lain. Kita, pasti pernah punya salah. Bahkan sering kita lakukan pada orang
lain. Pada sahabat kita. Saat ego masih tersimpan dalam hati, saat persepsi
menutupi mata hati bahwa orang lain harus menjadi yang sempurna di hadapan
kita, tanpa cacat, tanpa kekurangan. Maka, sesungguhnya kita telah membutakan
mata hati kita untuk memberikan permaafan pada orang lain. Menganggap setiap
kesalahan sahabat kita adalah dosa besar yang takkan termaafkan dan telah menutup
pintu maaf bagi setiap kesalahan mereka.
Sahabatku, Saudaraku… ikatan kita
bukan sembarang ikatan. Kita diikat bukan karena kesamaan kampus, kesamaan asal
daerah, kesamaan jurusan, kesamaan organisasi. Akan tetapi kita diikat atas
dasar cinta yang terbingkai dalam ukhuwah. Cinta pada Allah dan ukhuwah yang
menggelora mempersatukan setiap keping-keping hati yang tersebar di seluruh
penjuru bumi-Nya ini.
Sahabatku, Saudaraku… ikatan kita
adalah ikatan yang istimewa. Yang telah dipertautkan oleh Yang Maha Istimewa,
yang selalu kita ucapkan doa-doa rabithah dalam waktu istimewa kita, di
sepertiga malam terakhir sambil berdoa, Ya Allah….Sesungguhnya Engkau
tahu bahwa hati ini telah berpadu ,berhimpun dalam naungan cintaMu, bertemu
dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan,
Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya,
terangilah dengan cahayaMu, yang tiada pernah padam, Ya Rabbi bimbinglah kami.
Lapangkanlah dada kami, dengan karunia iman dan indahnya tawakal padaMu,
hidupkan dengan ma’rifatMu, matikan dalam syahid di jalan Mu, Engkaulah
pelindung dan pembela….
0 komentar:
Poskan Komentar